Banjarbaru kemenag BJB — Ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-XX tingkat Kota Banjarbaru kembali menghadirkan momen yang menggetarkan jiwa. Pada Rabu (26/11), Gedung Dekranasda Banjarbaru menjadi saksi arena adu ketajaman ingatan para penghafal hadits terbaik dari seluruh kecamatan.
peserta dari kategori hafalan 100 hadis dan 500 hadits, baik putra maupun putri, tampil menunjukkan kemampuan yang telah mereka asah selama bertahun-tahun. Pada kategori hafalan 500 hadis, tercatat 6 peserta putra dan 8 peserta putri, sedangkan kategori 100 hadis diikuti 9 peserta putra dan 6 peserta putri.
Untuk menjaga kualitas penilaian, tiga dewan hakim berpengalaman diturunkan, yakni H. Mukhlis Kaspul Anwar, Ust. Muhammad Hatta, dan Ust. Zikri Maulana. Mereka bertugas melakukan seleksi ketat terhadap setiap peserta, memastikan hanya yang terbaik yang dapat melangkah menjadi wakil Banjarbaru di jenjang MTQ yang lebih tinggi.
Salah satu dewan hakim sekaligus ulama terkemuka Banjarbaru, H. Mukhlis Kaspul Anwar, menegaskan bahwa penilaian hafalan hadis bukan sekadar mengingat teks semata, melainkan memeriksa seluruh aspek keilmuan hadis.
“Penilaian hafalan hadis sangat detail. Kami tidak hanya mendengar hafalan, tetapi memastikan peserta memahami sanad, matan, ketepatan redaksi, hingga ketelitian dalam menyampaikan ilmu. Ini bukan lomba biasa—ini proses melahirkan generasi muhaddis yang terpercaya,” ujarnya.
Beliau menambahkan bahwa peserta yang tampil hari ini menunjukkan potensi besar sebagai calon penerus estafet ilmu hadis di Banjarbaru dan Kalimantan Selatan.
Senada dengan itu, dewan hakim lainnya, Ust. Zikri Maulana, menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi peserta tidak ringan.
“Setiap huruf, setiap sanad, setiap matan harus tepat. Hafalan hadis kategori 100 hingga 500 bukan hanya soal kuat mengingat, tapi juga kuat dalam disiplin belajar. Saya melihat banyak peserta yang memiliki pondasi keilmuan sangat baik—mereka layak disebut bibit muhaddis masa depan,” ungkapnya.
Ust. Zikri berharap agar para peserta menjadikan pengalaman ini sebagai pijakan untuk memperdalam ilmu hadis lebih jauh.
“Ini bukan akhir, tapi awal perjalanan mereka. Semoga semangat mereka tidak berhenti di MTQ ini saja, tetapi terus tumbuh agar kelak menjadi ulama hadis yang menebar manfaat bagi umat,” tambahnya.
Melihat ketatnya kompetisi dan kualitas peserta, MTQ XX Banjarbaru dinilai menjadi momentum penting lahirnya generasi baru penghafal dan pecinta hadis. Mereka yang terpilih nantinya akan membawa nama Banjarbaru di tingkat provinsi dan nasional. diy
Pewarta: Mardian
Foto: Nurul
Pewarta: Mardian
Foto: Nurul








