Banjarbaru kemenag BJB — Menjelang dimulainya semester genap Tahun Pelajaran 2025/2026, madrasah di Kota Banjarbaru bersiap menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga penguatan karakter dan nilai kemanusiaan. Komitmen tersebut ditegaskan melalui penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di seluruh satuan pendidikan madrasah.
Penguatan komitmen ini mengemuka dalam kegiatan Kelompok Kerja Madrasah Tsanawiyah (KKMTs) yang dirangkaikan dengan Evaluasi Diri Madrasah, berlangsung pada Senin, 15 Desember 2025, di Kota Banjarbaru. Kegiatan tersebut menjadi forum strategis penyampaian arahan langsung dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banjarbaru, H. Mukhlis Ridhani, kepada para kepala madrasah tsanawiyah se-Kota Banjarbaru.
Dalam arahannya, H. Mukhlis Ridhani menekankan bahwa kurikulum berbasis cinta merupakan pendekatan pendidikan yang menempatkan nilai kasih sayang, empati, dan penghargaan terhadap martabat manusia sebagai fondasi utama proses pembelajaran di madrasah.
“Madrasah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter. Kurikulum berbasis cinta mengajarkan kita untuk mendidik dengan hati, membangun hubungan yang manusiawi antara guru dan peserta didik,” ujar Mukhlis.
Ia menegaskan bahwa implementasi kurikulum ini harus dilakukan secara konsisten di semua jenjang madrasah, mulai dari Raudhatul Athfal (RA) hingga Madrasah Aliyah (MA), sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah, dan inklusif.
“Cinta dalam pendidikan berarti menghadirkan rasa aman, saling menghargai, dan menumbuhkan potensi anak tanpa diskriminasi. Inilah ruh pendidikan madrasah yang harus kita kuatkan,” tambahnya.
Merespons arahan tersebut, Pengawas Madrasah, Hj. Hernita, menyatakan kesiapan jajaran pengawas untuk mengawal penerapan kurikulum berbasis cinta di seluruh madrasah di Kota Banjarbaru.
Menurutnya, kurikulum ini memiliki peran strategis dalam membangun karakter peserta didik yang berakhlak, berempati, dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.
“Kurikulum berbasis cinta mengajarkan nilai-nilai keteladanan, empati, dan penghormatan terhadap sesama. Jika diterapkan secara konsisten, madrasah akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual dan matang secara emosional,” ungkap Hernita.
Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut relevan diterapkan di semua jenjang pendidikan madrasah, karena pembentukan karakter harus dimulai sejak usia dini dan diperkuat secara berkelanjutan hingga tingkat menengah atas.
Sementara itu, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kota Banjarbaru, Fahmi Fitriadi, menilai bahwa kurikulum berbasis cinta merupakan langkah strategis dalam menjawab tantangan pendidikan modern yang semakin kompleks.
“Selama satu tahun terakhir, kurikulum berbasis cinta digaungkan sebagai upaya membangun iklim pembelajaran yang sehat dan bermakna. Tujuannya agar madrasah tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menjadi ruang tumbuh yang menyenangkan bagi peserta didik,” jelas Fahmi.
Ia menegaskan bahwa penerapan kurikulum tersebut sejalan dengan visi Kementerian Agama dalam membangun pendidikan yang berorientasi pada nilai, karakter, dan kemanusiaan.
Melalui kegiatan KKMTs ini, Kementerian Agama Kota Banjarbaru berharap seluruh madrasah siap menyongsong semester genap dengan semangat baru, menghadirkan proses pembelajaran yang berbasis kasih sayang, saling menghargai, dan berkeadilan.
Implementasi kurikulum berbasis cinta diyakini menjadi langkah nyata dalam menciptakan madrasah yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan manusia—sejalan dengan cita-cita pendidikan madrasah yang rahmatan lil `alamin. diy
Pewarta: Mardian
Foto: Alfin
Pewarta: Mardian
Foto: Alfin








