Banjarbaru (Kemenag) BJB — Dialog antarumat beragama kembali membuktikan diri sebagai ruang strategis untuk menumbuhkan karakter toleran di kalangan generasi muda. Hal tersebut tercermin dalam kegiatan Dialog Beragama yang digagas Penyuluh Agama Katolik dan digelar di SMP Negeri 5 Banjarbaru, Minggu (2/2/2026). Kegiatan ini melibatkan siswa-siswi Katolik SMPN 5 Banjarbaru, mahasiswa STIAI Al Falah Banjarbaru, serta mahasiswa STIKIP Widya Yuwana Malang, dengan fokus pada penguatan moderasi beragama dan toleransi terhadap pemeluk agama lain. Dialog berlangsung dalam suasana terbuka, setara, dan penuh semangat persaudaraan lintas iman.
Melalui dialog ini, para peserta diajak membangun komunikasi dan interaksi yang tulus antarpemeluk agama, bukan untuk memaksakan keyakinan, melainkan untuk saling memahami, menghormati perbedaan, dan menemukan titik temu nilai-nilai universal seperti kasih sayang, keadilan, dan perdamaian. Nilai-nilai tersebut dipandang sebagai fondasi penting dalam menjaga kerukunan nasional di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia.
Dalam penyampaian materinya, Widya, mahasiswi STIAI Al Falah Banjarbaru, menegaskan bahwa Islam secara tegas menjunjung tinggi prinsip toleransi. “Islam menghormati pemeluk agama lain dan mewajibkan umatnya memperlakukan mereka secara adil, baik, dan damai dalam kehidupan sosial. Islam menjamin kebebasan beragama serta melarang segala bentuk diskriminasi dan kekerasan,” ujarnya.
Sementara itu, dari perspektif penyuluh agama Katolik kemenag Banjarbaru, Niken Savitri, mengangkat nilai-nilai yang terkandung dalam dokumen Nostra Aetate. “Dokumen Gereja Katolik ini menekankan dialog, persaudaraan universal, serta sikap saling menghormati dan menolong antar umat beragama. Gereja tidak menolak kebenaran dan kesucian yang ada dalam agama lain, justru mengajak membangun dialog kehidupan demi keadilan dan perdamaian,” jelasnya.
Kegiatan dialog ini tidak hanya menjadi ruang edukasi, tetapi juga wahana pembentukan karakter generasi muda agar mampu hidup berdampingan secara harmonis dalam perbedaan, sekaligus menjadi agen perdamaian di lingkungan sosialnya masing-masing.
Menanggapi kegiatan tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banjarbaru, H. Mukhlis Ridani, menyampaikan apresiasi atas inisiatif dialog lintas iman yang melibatkan pelajar dan mahasiswa. “Kegiatan seperti ini mencerminkan praktik nyata moderasi beragama. Dialog yang dibangun secara tulus antara umat Muslim dan Katolik merupakan investasi sosial yang sangat berharga dalam merawat kerukunan umat beragama di Kota Banjarbaru,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Kementerian Agama akan terus mendorong kolaborasi lintas iman sebagai bagian dari penguatan nilai toleransi, persaudaraan, dan harmoni sosial. “Kerukunan tidak lahir secara instan, tetapi tumbuh dari perjumpaan, dialog, dan saling memahami. Inilah wajah Banjarbaru yang kita cita-citakan: damai dalam keberagaman,” pungkasnya. Diy
Pewarta: Mardian
Foto: Kontri
Pewarta: Mardian
Foto: Kontri








