Banjarbaru (Kemenag Banjarbaru)-Kantor Kemenag Kota Banjarbaru menggelar diseminasi pencegahan konflik sosial keagamaan melalui Sosialisasi Deteksi Dini Pencegahan Konflik Keagamaan Kota Banjarbaru, di Aula Integritas, Senin(10/2/25).
Sosialisasi dibuka langsung Kepala Kantor Kemenag Kota Banjarbaru, H. Mukhlis Ridhani. Hadir di kegiatan Ketua Tim Bina Penyuluh Agama Islam Kanwil Kemenag Kalsel, Hanafi Ridhani, dan Kasi Bimas Islam Kemenag Banjarbaru, H. Rimazullah. Kegiatan menghadirkan narasumber Ketua Tim Idensos Satgas Wilayah Kalsel Densus 88, Ipda Alim Sumartono, serta seorang mantan narapidana teroris.
Kepala Kantor pada sambutannya mengapresiasi sosialiasi yang dilaksanakan oleh Seksi Bimas Islam tersebut. Ia berharap pasca sosialisasi maka informasi yang diterima para peserta semakin jelas dan komprehensif tentang pencegahan anti toleransi, radikalisme, dan terorisme.
"Sosialisasi ini akan membuka pandangan dan wawasan kita secara lebih luas tentang penanganan konflik sosial berdimensi keagamaan. Dari pertemuan ini diharapkan kita semua bisa menjaga keharmonisan dan kedamaian di tengah maysarakat," ungkapnya.
Mukhlis mengimbau dari dialog yang terjadi akan menghasilkan pemikiran mengenai identifikasi tanda-tanda teorisme sejak dini. Hal tersebut selanjutnya ditindaklanjuti sebagai langkah dan upaya sinergis antar pihak terkait untuk bersama-sama mencegah radikalisme.
Senada dengan itu, Kasi Bimas Islam Kankemenag Banjarbaru, Rimazullah, menerangkan bahwa sosialisasi merupakan prakasa dari Kanwil Kemenag Kalsel, Polda Kalsel dan Densus 88. Kerjasama ini dimaksudkan untuk membangun pemahaman tentang pentingnya pencegahan konflik sosial keagamaan.
"Kegiatan sosialisasi ini dapat terlaksana berkat kerjasama antara stakeholder terkait, baik di Kemenag dan Kepolisan, tokoh agama, dan masyarakat. Sosialisasi menjadi usaha untuk mencegah dan menangani konflik sosial keagamaan di masyarakat, khususnya di Banjarbaru," tuturnya.
Lebih lanjut, para narasumber menjelaskan dan membagikan informasi aktual tentang upaya pencegahan terorisme kepada Kepala KUA, Penyuluh Agama, dan staf KUA. Harapannya para peserta dapat memahami dengan tepat tindakan-tindakan yang termasuk radikalisme dan terorisme serta menghindarinya di kehidupan keluarga dan lingkungan masyarakat.
Ketua Tim Idensos menyebutkan bahwa program pencegahan teorisme oleh Densus 88 melalui kegiatan sosialisasi semakin meningkat dari tahun ke tahun, baik sosialisasi dari media sosial maupun tatap muka.
"Kita sebagai orangtua dan anggota masyarakat harus waspada terhadap paham-paham terorisme yang disebarkan sejak kecil. Bagaimana sebagai orangtua memberikan pemahaman dan membimbing putra-putri dengan sebaik-baiknya agar terhindar dari paham radikal, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Ipda Alim Sumartono.
Menurutnya, pencegahan terorisme tidak merujuk pada agama tertentu, melainkan perlu keterlibatan semua agama. Karena itulah, masalah terorisme menjadi masalah yang harus ditangani bersama oleh seluruh umat beragama.
Sementara itu, narasumber lainnya yang merupakan mantan teroris menjelaskan bahwa paham radikalisme saat ini menargetkan generasi muda. Kondisi psikologis remaja yang sedang mencari jati diri dimanfaatkan kelompok teroris untuk memasukkan pemahaman radikal.
Menurutnya, kelompok teroris memasukkan pemahaman radikal melalui kelompok-kelompok kecil. Pendekatan yang intens membuat targetnya menjadi mudah terpengaruh dan bersepakat terhadap pemahaman yang lekat dengan kekerasan dan ancaman itu.
Oleh karena itu, narasumber mengingatkan agar masyarakat lebih berhati-hati dan peka terhadap kondisi sosial di lingkungannya. Informasi pencegahan konflik keagamaan ini diharapkan dapat diteruskan ke masyarakat binaan agar semakin luas dampaknya untuk menjaga keharmonisan kehidupan sosial masyarakat.
Pewarta : Rima
Fotografer : Nurul
Redaktur : Alfin








