Banjarbaru kemenag BJB– Riuh tepuk tangan dan sorak dukungan memenuhi Lapangan Hijau dr. Murjani Banjarbaru, Rabu (03/12), saat gelaran Gila Bola Tutup Tahun – Piala Banjarbaru Emas 2025 resmi dibuka oleh Walikota Banjarbaru, Hj. Erna lisa Halaby. Ajang sepak bola tahunan yang selalu dinanti ini kembali hadir membawa semangat baru, terlebih dengan hadirnya para tokoh penting kota: Ketua DPRD, jajaran Forkopimda, para pemerhati olahraga, serta Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banjarbaru.
Dalam sambutannya, Walikota Hj. Erna Lisa Halaby menegaskan bahwa sepak bola bukan hanya soal kompetisi, melainkan ruang besar untuk menempa karakter generasi muda Banjarbaru. Dengan gaya bicara yang lugas namun halus, beliau menyampaikan seruan yang menggugah.
“Gila bola itu wajar—yang tidak wajar adalah jika kita lupa bahwa olahraga ini menuntut jiwa besar. Banjarbaru Emas tidak dibangun dari kemenangan semata, tetapi dari sportivitas, kejujuran, dan sikap saling menghormati di lapangan. Saya ingin seluruh pemain bukan hanya jago menggiring bola, tetapi juga jago menjaga harga diri kota ini lewat tindakan-tindakan terpuji.”
Lebih lanjut Srikandi kepala daerah pertama di Kalsel ini menambahkan bahwa ajang olahraga menjadi ruang sosial yang efektif untuk mempererat kebersamaan masyarakat.
“Hari ini kita bukan hanya membuka turnamen sepak bola. Kita sedang membuka ruang persatuan. Lapangan Murjani harus menjadi tempat di mana semangat Banjarbaru Emas diteriakkan bukan dengan amarah, tetapi dengan kegembiraan dan sportivitas,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banjarbaru, yang hadir sebagai tamu kehormatan, memberikan pandangan yang elegan dan memperluas sudut pandang acara.
Melalui tim media kemenag Beliau menyoroti bahwa sepak bola memiliki daya magnet luar biasa, tidak hanya diminati anak-anak muda, tetapi juga para orang tua, tokoh masyarakat, bahkan komunitas lintas agama. Dari sana, ia menegaskan nilai-nilai moderasi beragama yang bisa tumbuh melalui olahraga.
“Olahraga kulit bundar ini adalah bahasa universal. Siapapun bisa mencintainya tanpa memandang latar belakang. Justru di tengah sorak dan kompetisi, kita belajar moderasi—mengendalikan emosi, menghargai keputusan wasit, menghormati lawan, dan menerima hasil dengan lapang dada.”
Lebih lanjut ia menekankan bahwa spirit sportif adalah bagian dari moderasi dalam bingkai kebersamaan.
“Jika di lapangan kita bisa saling merangkul meski berbeda seragam, maka di masyarakat kita pun bisa saling menghormati meski berbeda pandangan. Inilah hakikat moderasi yang sesungguhnya—dan sepak bola telah mengajarkannya jauh sebelum kita mengkajinya,” ungkapnya.
“Kemenag Banjarbaru mendukung penuh kegiatan seperti ini, karena olahraga adalah medium yang sangat kuat untuk membangun kerukunan, memperkuat karakter, dan menanamkan nilai kompetisi yang sehat.”
Gelaran Piala Banjarbaru Emas 2025 pun diyakini menjadi momentum penting dalam menumbuhkan generasi muda yang tangguh, berkarakter, dan berjiwa sportif—pondasi utama menuju Kota Banjarbaru yang lebih harmonis, maju, dan berdaya saing. diy
Pewarta: Mardian
Foto: Alfin
Pewarta: Mardian
Foto: Alfin








