Banjarbaru (Kemenag) BJB — Usia senja bukanlah akhir dari ikhtiar spiritual. Justru di masa inilah ketenangan batin dan pendampingan rohani menjadi kebutuhan yang tak tergantikan. Hal inilah yang terus dihadirkan para Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Banjarbaru melalui pendampingan sosial-spiritual bagi para lanjut usia (lansia) di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera, Jalan A. Yani Km 21,7 No. 10, Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru.
Panti sosial milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan ini menjadi rumah bagi para lansia yang membutuhkan layanan menyeluruh, mulai dari pemenuhan kebutuhan fisik, sosial, hingga rohani. Melalui sinergi antara Dinas Sosial dan Kementerian Agama, penyuluh agama hadir secara rutin memberikan pendampingan keagamaan yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan para penghuni panti.
Pendampingan tersebut meliputi bimbingan ibadah, penguatan keimanan, pembelajaran membaca Al-Qur`an sebagai upaya pemberantasan buta aksara Al-Qur`an, hingga konsultasi keagamaan praktis. Mulai dari tata cara shalat bagi lansia yang memiliki keterbatasan fisik, seperti tidak mampu melipat kaki, hingga bimbingan bacaan shalat bagi mereka yang belum sepenuhnya lancar.
Salah satu penyuluh agama Islam yang terjun langsung dalam kegiatan ini, Nuryana, mengaku merasakan kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri saat mendampingi para lansia di panti tersebut. “Bagi kami, mendampingi para lansia ini adalah pengalaman yang sangat bermakna. Mereka bukan sekadar menerima bimbingan, tetapi sedang mempersiapkan diri secara rohani di masa tua. Ada ketulusan, ada keikhlasan, dan ada semangat luar biasa dari para orang tua untuk terus belajar dan beribadah sesuai kemampuan mereka,” ungkap Noryana usai lakukan pembinaan pada Selasa (20/1).
Menurutnya, penyuluhan keagamaan bagi lansia memiliki pendekatan yang berbeda. Tidak menuntut kesempurnaan, namun lebih pada menumbuhkan ketenangan, rasa diterima, dan keyakinan bahwa setiap ikhtiar ibadah tetap bernilai di sisi Allah SWT. “Kami hadir bukan untuk menggurui, tapi menemani. Memberikan rasa tenang bahwa ibadah bisa dilakukan dengan cara yang ramah bagi kondisi mereka. Di situlah letak dakwah yang sesungguhnya,” tambahnya.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banjarbaru, H. Mukhlis Ridhani, memberikan apresiasi atas peran aktif para penyuluh agama yang dinilainya tidak hanya bergerak di satu sektor, tetapi hadir di berbagai ruang pengabdian masyarakat. “Kami sangat mengapresiasi dedikasi para penyuluh agama yang terus bergerak di tengah masyarakat. Tidak hanya mendampingi lansia di panti sosial, tetapi juga aktif dalam pembinaan majelis taklim, pendampingan pernikahan di KUA, hingga kerja sama dengan BNN dalam pembinaan korban penyalahgunaan narkoba,” ujar Mukhlis.
Ia menegaskan bahwa peran penyuluh agama merupakan wajah kehadiran negara dalam pelayanan keagamaan yang humanis dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. “Penyuluh agama adalah garda terdepan Kementerian Agama. Mereka hadir di titik-titik yang paling membutuhkan sentuhan moral dan spiritual. Banjarbaru sebagai ibu kota provinsi harus menjadi etalase praktik baik pelayanan keagamaan yang berdampak dan membumi,” tegasnya. Mukhlis berharap, ke depan peran penyuluh agama di Kota Banjarbaru semakin diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, agar pembinaan keagamaan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar memberi manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang berada di usia senja.
Pendampingan rohani di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera ini menjadi bukti bahwa nilai keagamaan tetap relevan dan menenangkan di setiap fase kehidupan. Dengan sentuhan empati dan pendekatan yang ramah, penyuluh agama hadir menjaga nyala iman, bahkan ketika langkah mulai melambat dan usia kian senja. diy
Pewarta: Mardian
Foto: Kontri
Pewarta: Mardian
Foto: Kontri








